Suatu hari ada seorang pemuda duduk termenung di tepi telaga. Tatapan matanya kosong (namanya juga termenung), menatap hamparan air telaga di depannya. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya.
“Sedang apa kau disini nak ?”
Ternyata ada seorang lelaki tua yang menghampirinya, sebut aja si bapak.
“Apa yang kau risaukan..?”
Pemuda itu pun menjawab.
“Aku lelah Pak. Bertahun2 aku menunggu, beribu jarak yang telah ku tempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga ku temukan rasa bahagia itu dalam diriku.
Aku telah berlari melalui gunung dan lembah, tapi tidak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Akankah ku temukan rasa itu?”

Si bapak pun duduk disamping pemuda itu, mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil dipandanginya lebih dalam wajah lelah pemudah itu. Lalu, dia mulai berkata,
“Di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan mu tadi, maka tangkaplah seekor kupu2 untuk ku.”
Pemuda itu menoleh ke arah sibapak dengan penuh rasa heran. Lalu sibapak kembali memastikan pemuda itu, “ya… tankaplah seekor kupu2 untuk ku..!! tangkaplah dengan tangan kosong mu sendiri”.

Dengan perlahan pemuda itu pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke arah taman yang ditunjuk si bapak tadi. Setelah sampai di taman, benar saja, beribu bunga terhampar indah di depannya dan ratusan kupu2 beterbangan di atasnya, sesekali seekor kupu2 hinggap di kelopak bunga.
Pemuda itu mulai bergerak, mengendap-endap agar tidak mengusik keberadaan kupu2 disana. Seekor dilihatnya sedang hinggap di salah satu kelopak bunga. Lalu dia pun mencoba menangkapnya… Hap.. namun gagal, kupu2 itu terbang. Lalu dikejarnya ke arah lain seolah tak mau kehilangan buruannya, dia berlari, mengejar kesana kemari, melompat, berlari lagi tak tentu arah, menembus semak, dan gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun tak seekor pun kupu2 didapatnya, pemuda itu mulai lelah, Nafasnya semakin kencang, dadanya berdetak dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda… Istirahatlah.”
Lalu si Bapak berjalan perlahan mendekati anak itu, tampak sekumpulan kupu2 beterbangan disekitar si Bapak, sesekali ada seekor yang hinggap di tubuhnya. Lalu si Bapak bertanya pada pemuda itu,
“Begitukah caramu menangkap kupu2 ??
Melompat dan menerjang..?? Berlari tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Si Bapak menatap sini s kepada pemuda itu.
“Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, makin jauh ia pergi darimu.”
“Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam seperti sayap kupu2 yang halus, atau sesuatu yang dapat kau simpan, karena kupu2 bukan hewn peliharaan. Maka Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sedari kebahagiaan itu sering datang sendiri”.
Kemudian si Bapak mengangkat tangannya, lalu tiba-tiba, tampak seekor kupu- kupu yang hinggap di ujung jarinya. Terlihat kepak-kepak sayap kupu- kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengayun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

Mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit,, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari.
Kita mungkin dapat mencarinya dengan berlari kesana kemari, melompat, atau bahkan menerobos sesuatu hingga merusak untuk mendapatkannya. mungkin kita bisa saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Atau dnegan nafsu yang kuat, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah kita mendapatkannya.
Kita hasrus tahu, bahwa kebahagiaan tidak bisa kita dapat dengan cara seperti itu, karena kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat digenggam, atau benda yang dapat disimpan. Kebahagiaan seperti udara yang hanya dapat kita hirup aromanya. Dan perlu kita ketahui, semakin kita mengejarnya, semakin cepat ia berlari. semakin kita ingin meraihnya maka semakin cepat ia menjauh dari kita.

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hati kita.
Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita.
Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dan dalam menjalani hidup kita.
Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi, dan dalam riuh.
Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dan dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana.
Bahagia itu ada di sekitar kita.
Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tidak pernah memperdulikannya.
Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling
kita (seperti kupu2 tadi), namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.